Demokrasi yang Tidak Terlalu Keren

Apabila anda kecewa melihat betapa banyak orang berduit yang mengisi berbagai papan iklan, baliho, spanduk, hingga iklan TV, jangan heran. Mungkin anda kecewa karena demokrasi yang seharusnya suci malah dikuasai orang-orang dengan harta yang signifikan. Jangan heran.

Kenapa?

Demokrasi sebagaimana dilakukan oleh orang Athena dan Romawi kuno adalah konsep yang sangat oligarkis. Tujuan utamanya adalah bukan untuk membuat rakyat kecil ikut dalam pemerintahan, tetapi untuk mencegah tiran (dalam bentuk raja) agar tidak berkuasa terlalu lama.

Walaupun “demokrasi” terdiri dari kata “demos” (warga negara) dan “cratein” (pemerintahan), ada beberapa konsep yang perlu diperjelas. Di Athena kuno, “warga negara” dalam kata “demos” bukanlah rakyat secara keseluruhan.

“Warga negara” adalah kasta tersendiri dalam masyarakat Athena, khusus bagi laki-laki merdeka (bukan budak) yang memiliki properti dalam bentuk tanah (dengan batas minimal tertentu) dan keturunan warga Athena. Oh ya, dan hanya laki-laki, perempuan tidak termasuk (lebih jauh lagi, pernah ada perdebatan filosofis apakah perempuan termasuk manusia apa bukan).

Lagipula, para warga negara itu memiliki penghasilan dari ladang pertanian yang dikerjakan oleh budak, membebaskan tuannya dari pekerjaan kasar sehingga memungkinkan mereka untuk berpolitik.

Jadi, poin utama demokrasi bukanlah pemerintahan kerakyatan. Sama sekali bukan. Poin utama demokrasi adalah pembukaan akses untuk berkuasa, dari yang sebelumnya hanya terbatas bagi kalangan berdarah biru saja, jadi lebih luas kepada mereka yang punya sumber daya cukup untuk membiayai kampanye. Yang tidak punya duit cuma jadi penonton saja, paling banter jadi pemilih.

Dan konsep demokrasi seperti ini yang terus dibawa dari era Athena, Romawi, Amerika Serikat, hingga negeri tercinta kita. Demokrasi dan Pemilu adalah mainan mereka yang memiliki sumber daya melimpah. Di AS, tidak jarang pengusaha mendanai kampanye partai tertentu agar ketika menang, partai tersebut membuat kebijakan yang menguntungkan mereka. Di sini? Sekalian saja yang punya duit berkampanye untuk berkuasa.

Kalau anda menginginkan memiliki pejabat negara yang dipilih berdasarkan kemampuan, mungkin ada baiknya anda hidup di masa Dinasti Han China, di mana pemerintahan dibuka oleh semua yang mampu melewati ujian negara (berdasarkan prinsip Konfusius), apapun status sosial dan kekayaannya. Memang tidak ada pemilu dan Kaisar masih harus disembah sebagai Putra Langit dan Pemegang Mandat Langit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: